August 22, 2008

ceritra

 

 

Old_book_6_1

 

Suatu pagi yang berkabut, aku menulis sebuah cerita nostalgi dengan ekstase perjuangan yang meluap-luap.



Bismillahirrahmanirrahim.



Ayahku sering sekali bercerita dengan heroik, kepada kami-kami ini, anaknya, tentang bagaimana dulu beliau berjuang setengah mati untuk hidupnya, untuk sekolahnya, untuk masa depannya.



Cerita-cerita semacam itu selalu menyulut, sehingga kami-kami ini seperti tertantang untuk bisa ikut tegar dan bersemangat menghadapi perjuangan panjang yang berkelok yang mendaki.



Sebegitu seringnya ayah mengulang-ulang cerita itu hingga sebagian aku sudah hafal bagaimana mulanya bagaimana akhirnya, tapi aku -menunaikan tugas sebagai anak yang menghargai orang tua - tetap dalam pose mendengarkan yang hikmat sembari berkhayal, dengan khusyuk aku telah menyiapkan cerita penyemangat yang nanti akan kudongengkan kepada anak-anakku.

 

Mungkin begini aku akan bercerita.

 

Nak, dengarlah petuah ayah dan Ibumu,

janganlah pernah mengeluh dalam menjalani cerita panjang hidupmu,lalui semua jalan mulus yang kami pernah tempuh, hindari setiap yang membuat kami terjerembab.

 

Setiap kesulitan yang kamu hadapi yakinlah bahwa akan ada kemudahan yang mengapitnya.

Setiap kesendirian yang kamu hadapi yakinlah Ayah dan Ibumu adalah orang yang ikut menghabiskan malam-malamnya untuk mendoakan kebaikan kepadamu sebanyak banyak yang kami bisa pinta.

 

Sebagai yang tertua maka tugasmulah melambungkan adik-adikmu menjadi manusia-manusia luar biasa.

Sebagai yang termuda maka tugasmulah untuk belajar banyak dari cerita saudara tua, lalu berterimakasih yang dalam untuk setiap cinta yang tersurat atau terpendam.

 

Sebisa mungkin kami berharap jalan kalian lurus dan mulus, maka setiap bimbingan dan petuah kami anggaplah surat-surat cinta.

Setiap yang berkenan di hati maka laksanakan dengan suka ria,setiap yang bertentang dihati simpanlah barang sementara untuk kau buka nanti rahasianya seiring usiamu yang berbilang yang bertambah.

 

Jadikan kami teman yang kalian percaya untuk setiap rahasia. Percayai kami sepenuhnya untuk setiap cerita-cerita.

 

Suatu ketika nanti saat kalian sudah harus menempuh kehidupan kalian sendiri, sempatkan waktu untuk menjenguk dan bercerita.

Nanti saat kami sudah renta cukuplah kami bahagia dengan mendengar bahwa kalian sudah berkelana separuh dunia.

Berkembang lebih besar dari kami.

Tumbuh lebih tinggi dari kami.

 

Pilihlah pasangan yang luar biasa, nak.

Yang mengamini setiap doa-doa kebaikan yang kalian kerjakan.

Yang beristighfar atas setiap khilaf-khilaf terpelesetmu dan selalu menyambut tanganmu untuk tidak terjerembab dalam.

Yang dalam setiap lelahnya dia tersenyum untuk menghiburmu.

Yang dalam setiap kesalnya dia diam untuk tidak berkata buruk.

Yang menemanimu dalam setiap pagi yang cerah bersinar dan tidak akan lari dalam setiap senja yang menjelang gelap.

 

(Si kecil tiba-tiba bertanya dengan lantang)

“oh…. Iya…. Ayah belum pernah bercerita bagaimana mulanya  ayah menemukan bunda??”

 

*****************

Benar juga… bagian itu, belum tahu aku bagaimana menulisnya!!

                            

rush

Rush




one day, there’s a man who asked to God

“god, what surprise u most about human kind?” the man said

“when they were children, they get bored with childhood, they rush to grow up and then long to be children again” God answered.


Hari ini aku bongkar-bongkar kamar, ada tumpukan arsip surat-surat dari kawan-kawan lama. Nostalgi yang tenang dan damai.

Surat-surat dari kawan-kawan di sebrang pulau, saat-saat mengenang persiapan SPMB kemaren. Tak disangka ternyata itu sudah hampir lima tahun yang lalu, lebih bahkan.

Waktu seperti berlari dengan kecepatan cahaya, siapa yang pernah mengukur waktu ya? kita ini setiap hari selalu terhenyak dan tersadar, sedemikian panjang waktu yang sudah terlewat dan kita ini baru sekarang-sekarang bisa mengenangnya dengan penuh nostalgia, ternyata masa SMA dulu itu masa yang luar biasa menyenangkan, masa dimana pikiran2 menerobos dan berloncatan ingin tumbuh dan menjulang ke awan-awan cita-cita. Baru sekarang-sekarang juga kita ini bisa menikmati bahwa waktu kuliah dulu itu ternyata kita sudah melewatkan 4 tahun dengan agak cuma-cuma, seperti kurang menggelegar gaung karya-karya kita, seperti kurang bertumpuk buku-buku yang kita baca-baca, seperti kurang banyak teman-teman yang kita kenal, hari-hari yang kita lewati dengan segala idealisme khas anak muda itupun seperti kurang lama kurang warna.

Selalu saja, kita ini pintar benar dalam hal “terlambat menyadari bahwa sesuatu itu berharga“. Setelah lewat masanya baru kita bisa rasa-rasa, bahwa dulu pas di tk itu kita mungkin kurang banyak main loncat tali, atau masa sd itu kenapa kita tidak ikut saja lomba baca puisi-nya???

We rush to grow up!! Selalu buru-buru ingin melepas seragam putih biru kita dan selalu merasa putih abu-abu itu luar biasa dan keren, lalu mencampakkan putih abu dengan tergesa sambil melirik jas almamater yang bikin kita kelihatan gagah dan wibawa, lalu menjalani perkuliahan dengan kebosanan yang sangat dan berteriak ingin segera bertengger di perusahaan punya nama dan punya harga.

Lalu kita ingin kembali setelah semuanya tidak bisa diputar ulang.

Point of no return!! We want to be children again?? apa bisa kita berlari lebih cepat dari waktu?

Terlalu panik dengan masa depan membuat kita tidak lagi ingat bahwa kita harus menikmati masa sekarang.

Dont be to hurry brother!! sister!!

Masa lalu adalah lembaran tempat kita rekreasi dan mengulang sungging senyum, masa lalu adalah memori yang tak mungkin kembali, seperti masa depan yang masih misteri dan belum terjadi.

Hal yang sebisa mungkin kita nikmati adalah hari ini. so enjoy ur “today”, Today is a gift, that’s why we called it presents.

 

one day a man asked to God

“God, what surprise u most about human kind?”

God answered “by thinking anxiously about future, they live in such a life neither present nor future

mengheningkan cipta

Pengamen

Di sebuah persimpangan jalan di bandung, hampir persis di bawah fly over pasupati, ada sebuah jam digital yang cukup besar. secara periodik, selang waktu beberapa detik, jam itu berganti-gantian menampilkan waktu dalam indonesia barat dan suhu cuaca pada waktu itu. Setelah beberapa kali pengamatan, aku perhatikan rata-rata cuaca bandung itu mulai dari 21 c hingga 30an c.

sepanas apa itu udara yang paling panas di bandung? Mungkin sepanas udara dalam bus jurusan dipati ukur - leuwi panjang pada suatu siang yang gerah 25 juli 2008. dibandingkan dengan suhu di jakarta, tentu saja cuaca di bandung masih kalah pamor. Tapi untuk ukuran sebuah kota yang sejuk, maka macet siang-siang, plus melihat deretan mobil yang mengular sampai ke lampu merah di ujung sana itu, tentu saja tantangan tersendiri.

lalu seperti biasanya, para pedagang asongan masuk dengan pede lalu berorasi dengan lancar, inilah orator-orator yang dibesarkan oleh alam, fikirku….. tentu saja dengan tidak begitu memperhatikan.

tak lama kemudian seorang pengamen dengan perawakan yang biasa masuk juga ke dalam bus. aku masih dalam mode tidak memperhatikan, sampai saat dia mendentingkan gitarnya pada tembang pertama.

Sebuah lagu lama yang ceria sekali. enak betul rasanya ditelinga. kalaulah ada wisata kuliner musik jalanan, maka pengamen satu ini layak didatangi pak bondan winarno dan diberikan stempel “maknyus”!! sepertinya dia itu bernyanyi dari dalam hati betul! petikan gitarnya, starting awal nada suaranya, khas timbre vokal yang berat itu mengalun hati-hati dengan apik, tidak lebih, tidak kurang, terus melengking dengan manis, dan fade out dalam sebuah fallseto yang cantik. BRILLIAN!!!

Ah…. begini rupanya kalau apa-apa itu dikerjakan dengan hati! sepertinya benar-benar membawa ceria. Kalau ini adalah orasi, maka denting lagu nostalgi dia itu adalah orasi bung tomo yang menggelegar, yang membakar bakul-bakul jamu dan tukang-tukang tahu untuk bangkit bergerak, maju!!! lawan!!! rawe-rawe rantas, malang-malang putung!!!

:-) memang hiperbolis, tapi betul memang itu yang terasa.

Kawan, aku jadi percaya sekali bahwa dalam kapasitas apapun kita ini dipasrahkan peran, seandainya kita lakukan yang terbaik yang kita bisa, maka itu akan berbekas di hati orang lain, atau setidaknya di hati kita sendiri.

Dalam sebuah tulisan pada buku entah yang mana aku lupa, pernah kubaca: “jika kamu hanyalah seorang penyapu jalan, maka jadilah penyapu jalan yang baik, yang menyapu jalan dengan sepenuh jiwa, yang menghasilkan maha karya jalan bersih luar biasa, karya agung senilai patung artistik michael angelo. Hingga nanti saat kau telah tiada, akan banyak orang, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi akan mengheningkan cipta, untuk mengenang bahwa disini pernah tinggal seorang penyapu jalan yang legendaris”

Maka lewat tulisan ini, aku mengucapkan terimakasih yang dalam, dan mengheningkan cipta sejenak, berterimakasih atas pengamen legendaris yang menceriakan perjalanan dipati ukur- leuwi panjang, di suatu siang yang panas terik dan menyengat, duapuluh lima juli yang lalu.

kita dikelilingi orang-orang besar (yang kesekian kalinya)

Surround

Hippocrates, beberapa ratus tahun yang lalu mengelompokkan watak manusia dalam empat tipe yang kawan2 pasti sudah paham betul.

Semisal seorang yang berjiwa kepemimpinan yang kuat dia namakan sebagai tipe KOLERIS, atau pecinta seni yang perfeksionis kita sebut sebagai MELANKOLIS, atau juga watak ceria SANGUINIS, atau lagi sang PHLEGMATIS yang damai dan easy going. Kesemua sifat ini pastilah banyak kita jumpa dalam hari-hari kita berinteraksi dengan teman-teman sebaya, dengan adik-adik muda belia, atau dengan senior-senior paruh usia.

Kadang-kadang, kita bisa menjadi semacam psikolog, yang dengan seenaknya gampang sekali mengelompokkan orang yang mana dalam kriteria yang mana. Lantaran salah satu sifat diatas itu tadi mungkin terlampau polos menyeruak di keseharian kenalan-kenalan kita itu, ah…. tak dinyana, manusia yang selalu mendominasi itu, -teman kita itu-, pastilah seorang KOLERIS sejati! atau juga semisal teman kita yang selalu santai betul menghadapi semuanya, hampir-hampir seperti orang tanpa ambisi, tak perlu lama, pastilah kita stempel PHLEGMATIS besar-besar di keningnya.

Lalu aku berkelana ke masa-masa SMA dulu, teringat aku akan seorang kawan yang sepertinya dilimpahi berkah dari langit. Nantinya para psikolog harus membuat satu lagi klasifikasi untuk orang macam beliau ini.

Bagaimana memberi nama seorang pemimpin besar yang bakatnya sudah meluap-luap sejak kecil? pemimpin yang mengatur dengan memesona. Perfeksionis yang santai dan berseni dalam semua-mua hidupnya. Pembicara dan pendebat handal tak dinyana. Ekstrovert luar biasa untuk menjadikan semua orang teman baiknya, disaat yang sama juga introvert yang selalu berkontemplasi dan merenung sebelum segalanya. Matematikawan yang pandai mendenting gitar. Agamis yang membumi. Orang yang berorasi sehebat tulisannya. Orang yang diam sehebat berfikirnya.

Orang ini tipe macam apa?? pikirku.

Kalaulah setiap teman yang menginspirasi itu aku tuliskan dalam selembar kertas, maka mungkin aku sudah menamatkan berpuluh-puluh judul “kita dikelilingi orang-orang besar”.

Sedihnya aku, sering nian cerita orang-orang besar itu, -kawan2 yang menginspirasi kita itu-, tidaklah berakhir dengan kegemilangan yang “wah” semisal penaklukkan byzantium atau epik gajah mada.

Entah kenapa sejarah memainkan cerita klise yang paradoks. Orang-orang dengan talenta besar haruslah diam dan mati sebelum kecambahnya menjulang kekar sampai ke awan sampai keatasnya lagi! Teman luar biasaku ini memainkan lakon anak brilian dari pojok pasar kumuh yang harus mengajarkan lagi pada pembelajar-pembelajar hijau seperti kita-kita tentang bagaimana itu harusnya bersabar, tepat seperti bagaimana ia tersenyum waktu talenta sesamudera itu -mau dikata apa- haruslah padam seketika karna ekonomi keluarga.

Jikalah setiap teman-teman yang menginspirasi itu aku tuliskan dalam selembar kertas, maka mungkin aku sudah menamatkan berpuluh-puluh judul “kita dikelillingi orang-orang besar”. Untuk setiap teman-teman yang tersenyum tegar menghadapi drama panjang pertarungan mimpi-mimpi besar dan realita yang luar biasa tegas luar biasa keras.

HIPPOCRATES!! mereka itu tipe orang macam apa???

untuk teman-teman terbaik

Together

Bismillahirrahmanirrahim.

Dari sore yang menjelang malam.

Kutuliskan ini sebagai bentuk rasa syukur, untuk telah dianugerahkan teman terbaik seperti kalian.

Kebersamaan yang takkan pernah berkarat, biarpun jarak kita jauh, biar kehidupan kita sudah sendiri-sendiri, biar cerita kita sudah beda tema, biar lakon drama kita sudah beda naskah, biar kehidupan membawa kita pergi ke takdir yang berbeda-beda.

Kutuliskan ini sebagai bentuk terima kasih.

Atas rasa terbakar dalam dada, saat menyaksikan teman-teman terbaik terbang melesat ke awan-awan ilmu itu, melayang-layang di atmosfer pembelajar sepanjang hayat itu, lalu aku terperangah dan bangun, berjalan, berlari, sedikit melompat setinggi-tinggi yang aku bisa capai. Meski belum sampai terbang, tapi sekedar bukti dan teriakan kecil, kawan…. aku juga berjuang setengah mati sebisa-bisanya!

Kutuliskan ini seperti bentuk cerita, kisah yang bakal ku bagi semuanya.

Untuk yang terpisah jarak terpisah waktu. Bahwa dalam setiap jatuh, setiap bangun, setiap sendiri, setiap duka, setiap suka ria, setiap masa-masa yang aku lewati dalam cerita petualangan ala aku itu, aku selalu mengingat kalian.

Untuk memulung semangat dari hari-hari yang dulu pernah kita lewati.

Untuk membuat nyala dari bara dalam hati, bahwa di ujung sana ada teman-teman yang sama berjuang, sama bertahan dari ombang-ambing ujian demi ujian, sama mendoakan dalam setiap ia punya kesempatan.

Kutuliskan ini sebagai bentuk doa.

Dari jarak yang membentang ini, semoga Dia menjadikan hati-hati kita berhimpun selama-lama masa.

Kutuliskan ini, dari sebuah sore yang menjelang malam

struggle

Struggle

Semua berawal dari acara tv pagi tadi. Ditampilkan disana suasana ceremonial kelulusan sebuah sekolah tingkat sltp. Tentu saja suasana kelulusan dari orang-orang biasa tidaklah akan terlampau menarik, maka agar lebih punya rasa disorotlah oleh mereka suasana perayaan kelulusan para selebritis.

Salah satu selebritis yang disorot adalah gita gutawa. Anak komponis besar ini memang luar biasa. Dia merupakan peraih peringkat terbaik untuk nilai ujian akhir di sekolahnya al azhar. Sepintas lalu saya menilai anak ini, dia terkenal, penuh talenta, wajah rupawan, punya harta, dan tentunya pintar. Perfect……..

Lalu ingatanku melayang-layang pada suatu percakapan di sore hari dengan adik tertuaku. Dia ini adalah orang dengan tipikal rata-rata saja, tipikal orang-orang kebanyakan. Berasal dari keluarga sederhana saja (tentu saja sama denganku), tampang ngepas, tidak bisa juga dibilang punya talent yang luar biasa, ah.. pendek kata benar-benar tipikal orang biasa.  Aku ingat betul, bagaimana dia itu berjuang, desperately struggling untuk meloloskan diri dari skala terendah nilai yang ditetapkan sebagai standar untuk lulus atau tidak lulusnya seseorang dari ujian nasional.

Kemudian dia hijrah ke bandung dari rumah kami yang sederhana di pojok kota bengkulu, bimbel di ganesha operation bandung, dan memulai kembali perjuangan berat menempuh lika-liku ujian masuk perguruan tinggi negri.

Suatu kali di ganesha operation, dia melihat seorang siswa yang datang menggunakan mobil BMW mewah, berdandan mantap luar biasa, mengalungkan handphone high tech di lehernya, sambil menenteng buku-buku tebal persiapan snm-ptn. Sepintas lalu adikku ini ternyata membatin sendiri, dia percaya sekali bahwa orang yang penuh dengan gaya dan penampilan seperti ini pastilah “kosong”, begitu pikirnya.

Tak seperti yang dikira, suara batin selintas itu runtuh ambruk suatu hari dalam sebuah  percakapan dengan seorang teman yang memberitahukan kepadanya bahwa siswa yang dilihatnya tadi adalah siswa dengan otak terencer dikelasnya. Lagi-lagi Perfect!

Tidak habis-habis pertanyaan adikku dalam perenungannya itu, lewat matanya aku dengan lancang menerka-nerka “gerangan apa kiranya segala kelebihan itu tumpah ruah di salah seorang manusia??”

Selalu begitu……… Hal yang paling sering membuat kita merenung dalam-dalam adalah pencarian panjang akan diri kita sendiri. Monster terbesar yang kita hadapi dalam lelakon “seribu satu malam” versi kita masing-masing adalah nyata-nyata fikiran kita sendiri. Kita cemburu. Kalut. Bingung. Gamang. Cemas. Dan lain-lain rupa.

Lalu aku tersenyum simpul saja, bagaimana caranya membangkitkan semangat yang sayup-sayup tertidur, hanya dalam menit dalam detik, bisakah??

Kedewasaanlah yang kuharap-harap akan datang seiring waktu hidupku yang semakin lama semakin tua ini. Agar bisa menyemangati dengan sabar sesabar-sabarnya, biar kena sekena-kenanya.

Dek, Cuma kebanggaan untuk terus melayang-layang di atas karpet ujian demi ujian, untuk terus meloncat-loncat meniti kubah-kubah kesempatan, dan berpegang erat agar tidak tergelincir dalam resiko-resiko yang luar biasa curam itulah yang membuat kita masih berasa sebagai manusia, yang punya nyawa punya harga.

Rekapitulasi perjuangan kita adalah dinilai dari seberapa tegarnya kita untuk terus bertahan agar tetap muncul di setiap babak lakon “seribu satu malam” kita ini. Dan dari setiap akhir cerita yang datang entah dramatis entah tidak itu, kita lagi-lagi harus bersabar untuk tertakdir menjadi ksatria gagah jumawa atau juga pribumi biasa-biasa saja.

July 26, 2008

bahasa cinta saudara tua

Brotherhood

bismillahirrahmanirrahim.

lewat tulisan kadang-kadang ada hal yang bisa lebih mudah dikeluarkan, semisal tembok-tembok tak kasat mata yang menghalangi kata-kata untuk keluar dari kerongkongannku ini, tiba-tiba menjadi luluh dan segampang gampangnya aku tembus lewat diksi-diksi yang kurapal setengah seperti doa supaya sampai ke mata, telinga, dan hatimu bahwa ini bahasa cinta dari seorang saudara tua.

maka itu cerita-cerita doa ini kulukiskan dengan pelan-pelan saja, semoga bisa menjadi semacam pengikat, jalinan darah yang  merekatkan kita lewat ibu lewat ayah itu semoga menjadi bertambah-tambah kokohnya.

umur kita terpaut beberapa tahun hanya, naif memang jika aku menyebut-nyebut diri ini sebagai orang yang jauh lebih dewasa darimu, maka itu aku hanya akan bertutur jujur mengenai hari-hari yang dulu-dulu itu pernah aku lewati dengan bodoh, biar nantinya kau akan bisa mengambil apa-apa yang sekira perlu untuk jadi pedoman, menghindari apa-apa yang sekira rentan untuk dijadikan jalan.

Semata-mata karna hidup kita ini singkat, terlalu sedikit waktu untuk kita belajar dari kesalahan kita sendiri, maka belajarlah dari kesalahan orang lain!

Semata-mata karna hidup kita ini singkat, maka semoga kebodohanku ini menjadi semacam pahala karna telah dipelajari detil-detilnya olehmu, dan oleh siapa saja.

ah………. tiba-tiba aku merasa seperti tua dek,

maka lewat diam kadang-kadang ada hal yang bisa lebih mudah dikeluarkan, semisal sumbat-sumbat tak kasat mata yang menghalangi kata-kata untuk keluar dari penaku ini tiba-tiba menjadi luluh dan segampang gampangnya aku tembus, lewat doa, supaya sampai ke mata, telinga, dan hatimu bahwa ini cinta dari seorang saudara tua.

no turning back

Water_flow_close_zen_16x12 there comes a time in every journey, when u realize there’s no turning back.

waktu liburan bulan ini, aku reuni dengan teman2 masa kuliah, dan bercerita banyak tentang kehidupan baru yang kami “dapatkan” sekarang ini.

“destiny men…. destiny……” selalu itu guyonan konyol yang kami kelakarkan setiap kali bertemu.

bagaimana tidak berteriak lantang “destiny… destiny…” kalau ternyata orang yang dulu tidak pernah kami sangka2, orang yang selalu diluar lingkaran kandidat pemegang ipk termaut, atau diluar lingkaran aktivis kampus organisatoris yang selalu punya retorika menggelegar, juga diluar lingkaran nama-nama yang akan mudah diingat karna dia orang yang selalu vokal dan punya peran penting dalam kehidupan ke-kampusan kami ini, ternyata digulirkan oleh takdir untuk menjadi the choosen, satu dari sedikit orang yang terpilih untuk masuk sebuah perusahaan minyak yang punya nama itu.

takdir berjalan dengan cara yang tidak diduga-duga…. terkadang itu benar-benar menohok, dan membuat kami-kami ini kadang tersenyum, kadang tersenyum sambil melongok, susah aku menggambarkan bagaimana kenampakan orang yang tersenyum sembari mengerutkan kening dan berpikir “lha…. kok si anu malah gini tapi si anu malah gitu??”

no turning back……
seorang teman ditakdirkan terdampar di halmahera….
yang lain di belantara aceh
ada yang di tengah rimba sulawesi
ada yang di hiruk pikuk jakarta
ada yang bolak-balik antar pulau,
ada yang meneruskan studi di sebrang lautan
ada yang masih berjibaku untuk lulus dari kampus
ada yang bentar lagi married

ada sisi-sisi dimana lembar kehidupanmu itu tidak selalu bisa kamu pastikan kemana arahnya…….

lalu kami-kami ini mencoba mengeja terbata-bata. Lalu bercerita lagi dalam ketawa-ketiwi pelan sambil menyeruput teh seduh dari poci. Kita ini kan manusia yang akan terus berjuang berbuat yang terbaik yang kita bisa, tapi bagaimanapun juga, Dia yang maha segala maha.

dalam setiap perjalanan panjang kita, akan ada masanya dimana kita tiba-tiba sadar bahwa kita sudah tidak mungkin surut ke belakang. pilihan kita hanya tetap maju, atau hilang sirna dalam pencarian panjang ini.

tapi setidaknya “sekali berarti, setelah itu mati”

July 18, 2008

puzzle dunia

puzzle

Dulu sekali, seorang kawan pernah berkirim surat padaku, dan bertanya “apakah wajar, dengan usia kita yang sudah sebegini, kita masih terus mencari jati diri?”.

Waktu itu, kutanggapi pertanyaan temanku itu dengan main-main saja. Tapi kok rasanya akhir-akhir ini aku jadi merenung sendiri dan berpikir bahwa memang pencarian panjang kita akan jatidiri adalah hal yang luarbiasa rumit.

Sampai sekarang, aku masih yakin benar bahwa pencarian jatidiri adalah proses panjang yang akan bergulir seiring waktu kehidupan kita yang terus menua.

Hidup ini, kan seperti ekspedisi mencari potongan puzzle kita yang terserak morak. Setelah separuh usia kita jalani ini, dengan susah sungguh sudah kita dapatkan keping-keping teka-teki kita masing-masing, lalu menyusunnya dan mengira-ngira gambarnya.

Sangat mungkin, di separuh sisa usia kita berikutnya, kita temukan lagi kepingan-kepingan lain, yang bisa jadi merubah total gambaran kita sebelumnya.

Jadi, kawan, aku sama sekali tidak pernah menganggap bahwa segala kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan kita yang terus mengalir itu, atau segala perenungan-perenungan panjang kita sebagai pertanda bahwa kita ini manusia gamang yang tidak punya jatidiri. Sama sekali tidak!!

Karna pencarian ini, kawan, akan terus berlangsung sepanjang usia kita, seiring nafas dan nadi yang semakin lamur.

Nantinya. Kita-kita ini yang akan resapi betul pepatah orang-orang tua dulu, bahwa “belajar itu sepanjang hayat”, katanya.

Sejatinya, bahwa satu-satunya hal yang tidak pernah berubah di muka dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Dan setiap mentari baru yang menyeruak dalam hari-hari kita esok, kita ingin seperti isaac newton. Tatkala ribuan orang melihat apel jatuh, hanya kita yang bertanya “mengapa??”.

Lalu kita dapat satu keping puzzle lagi hari ini, iya kan??

April 22, 2008

mungkin ini rindu

Laut_tenang

Senja masih putih, masih bersih.Semburat merah yang biasa itu masih ragu-ragu menimbang-nimbang, kiranya akan tertunda atau muncul lebih mula.

Nostalgi-ku waktu itu bergerak seperti kapal nelayan kecil di ujung sana. Tenang menyusur tempias ombak menuju tepian memori redup-redup.

Hari sepertinya belum pernah setenang ini, awan-awan putih bersinar terang di pinggir-pinggirnya, lalu berarak tenang seperti bergerak seperti diam.

Tiba-tiba aku merasa asing, rasa-rasanya aku ingin meloncat, dan berlari meniti hampar laut. Ingin kuceritakan pada bunda di belah dunia sana, bahwa betapa anaknya saat ini mengembara di negri-negri yang entah dimana.

Rasa-rasanya ingin melompat aku menangkap camar-camar hitam putih itu, lalu kulayangkan pada adik-adikku, kupesankan untuk bercerita bahwa kakaknya telah menempuh perjalanan separuh dunia.

Mungkin ini, rindu dalam sastra-sastra para pujangga, waktu tiba-tiba hatimu merasakan luasnya dunia dari sudut cakrawala, tapi tak tahu harus bercerita pada siapa.

Seperti waktu kailmu mengena ikan besar di laut kehidupan itu, tapi tak jua kau tarik, karna tiba-tiba hatimu bertanya “dengan siapa aku memakannya?”

Mungkin ini, rindu dari senandung syair negri-negri jauh, waktu senja tiba-tiba terasa begitu putih dan kau berlari diatas hampar ombak naik-turun-naik-turun, sembari menggenggam burung-burung camar, lalu menatap di kejauhan sana ada seorang putri.

janji wisudawan

 














Ada rasa haru yang dalam saat mengenakan toga dan topi segilima waktu wisuda itu.Sebenarnya terlihat lucu, pakaian toga itu, dan segala asesorisnya, tapi biarlah aku berkhusnudzon saja bahwa segala hal itu adalah mewakili makna makna tertentu, segilima mewakili sesuatu dan juga jubah seperti penyihir itu mewakili sesuatu.

Saat orang tuaku hadir setelah menempuh perjalanan 24 jam bengkulu bandung, dalam sebuah bus yang penuh, dengan membawa bekal uang seadanya, ada perih menyayat dalam hati.

Pada malam harinya aku merenung dalam, inilah rupa-rupanya kenapa kebijakan universal dari dulu itu mewajibkan kita untuk sedalam dalamnya hormat pada kedua orang tua kita.

Tetes peluh keringat dan airmata mereka tidak bisa kita kumpulkan dan analisa statistiknya.

Doa-doa malam mereka masih jauh dari nalar kita, tentang bagaimana suara hati mereka itu lalu menjelma nada2 hening dalam malam2 sunyi senyap, lalu sampai pada kita nun disebrang lautan sana.

Untuk membantu kita menepis kantuk tengah malam demi beberapa lembar skripsi,
untuk membantu kita bertahan dari setiap lelah tak berujung sepulang kuliah kita,
untuk mendekap hangat ringkuk kita waktu kita benar-benar sendiri,
dan menopang kaki-kaki rapuh kita dalam perjalanan luar biasa panjang ini hingga kita merasa cukup tegar untuk tetap berdiri dan berjalan lagi…….. berjalan lagi……….. berjalan lagi.

Mengingat raut wajah mereka saja sudah menyulut bara dalam setiap renung kita, lalu kita berjanji sepenuh hati, bahwa segala kebodohan kita waktu masih sekolah dulu adalah masa lalu yang sekuat tenaga akan kita rubah,
segala bantah-membantah kita waktu masih kecil dulu adalah ketidakmatangan yang sepenuh hati kita akan gantikan dengan pengertian-pengertian.

Linang air mata bangga mereka hari wisuda itu mematri janji dalam hati paling dalam.

“bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa, dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita”.

STOP

Mountain

We are all climbing different paths through the mountain of life,
and we have all experienced much hardship and strife.



There are many paths through the mountain of life,
and some climbs can be felt like the point of a knife.



Some paths are short and others are long,
who can say which path is right or wrong?



The beauty of truth is that each path has its own song,
and if you listen closely you will find where you belong.



So climb your own path true and strong,
but respect all other, truths for your way for them could be wrong.

-Dan Inosanto

kita dikelilingi orang-orang besar (5)

Watchingandwaitingresized

Sungguh, sesulit apapun masalah dan ujian yang kita hadapi. Seberapa membelit-belitnya perasaan yang kita alami, jikalah kita mau menyempatkan diri untuk sebentar menengok kiri kanan, maka akan kita dapati bahwa beribu-ribu orang di sekitar kita memiliki masalah yang luar biasa pelik dan membuat kita malu untuk telah menganggap sentilan kecil dalam lika-liku panjang kita ini sebagai masalah.

Pak win…..
Begitu orang biasa memanggilnya.
Beliau ini adalah seorang tentara, kalau tidak salah, seingatku Pak win adalah seorang kopassus. Tapi jauh sekali dari gambaran kopassus yang terekam di benak kita. Pak win sudah tua. Tua sekali. Tapi meskipun tua, pak win tidak pernah kurang rasa humornya, dan selalu menganggap semua orang yang lebih muda dari beliau sebagai orang yang lebih terpelajar.

Pak win ditugaskan sebagai security pada sebuah fasilitas ground control (waste management, fasilitas pengolahan limbah hasil pemboran minyak lepas pantai, tempat dimana aku terkadang ditugaskan bekerja).

Hari ke hari mengenal seorang Pak Win, aku semakin kagum.
Beliau bertugas di kalimantan timur, padahal rumahnya adalah di jawa. Dan tahukah kamu kawan, seberapa lama dia harus bertugas??? dia sudah bertugas lebih dari dua tahun dengan jadwal kerja 3 bulan satu minggu. Artinya dia wajib bekerja selama tiga bulan dan setelah itu dapat liburan satu minggu untuk pulang ke jawa. Tentu saja itu adalah di atas kertas, jadwal sebenarnya adalah terus bekerja tanpa tahu kapan dia berhenti dan tanpa tahu kapan dia bisa bertemu keluarga.

Entah ketegaran sekeras intan atau keterpaksaan yang merantai membuat dia sanggup menjalani jadwal semacam ini. Sudah coba kutimbang-timbang, dan coba2 kurasa-rasa, bagaimana jika aku menjadi Pak Win????
Wah….. bisa mampus aku, apa rasanya 3 bulan bekerja di negri orang, dan tak bisa ketemu keluarga?? lalu libur yang hanya satu minggu itu pula terkadang dikebiri, dipotong, habis seperti arang binasa…… tapi kesabaran itu menjelma jadi wujud seorang bapak tua mantan kopassus yang senang mancing pagi2 dan sore2, lalu bercanda dengan para karyawan2 yang lebih muda2 dan terpelajar2, lalu mengajarkan tawa dan arti hidup pada kita, seperti apa yang namanya “tegar” itu, lalu menghabiskan malamnya dengan sendiri lagi dengan sendiri lagi…….. sepi…….. senyap.

Lalu menyampaikan salamnya pada istri dan anak2 tercintanya dengan kiriman uang awal bulan…….

Lalu dengan setia melambaikan tangan kepada kami yang pulang pergi dari sana

” Mas rio… sampaikan salamku pada Jawa” katanya….

be water my friends!!!

Water_rippling

Suatu kali, bruce lee pernah mengeluarkan pernyataan “be like water”.

Dalam banyak kesempatan bruce lee mengingatkan murid-muridnya untuk berprinsip seperti air.

“if you put water into a cup, it becomes a cup. You put water into a bottle, it becomes the bottle. You put water into a teapot, it becomes the teapot. The water can flows, or it can crush. BE WATER MY FRIENDS”

begitu kurang lebih kata si dedengkot kungfu itu.

Dalam banyak kesempatan, biasanya dalam kesendirian, atau dalam masalah yang sangat berbelit (biasanya berhubungan dengan orang lain), aku terkadang senyum-senyum sendiri kalo inget falsafah itu.

Wah… ini dia testing filosofi bruce lee, pikirku.

Banyak sekali hal yang pernah kita alami, mengharuskan kita untuk fleksibel dan selalu bisa menyesuaikan diri dengan orang lain.

Banyak juga hal yang mengharuskan kita untuk benar-benar bisa memilih, kapan kita “flows” kapan kita harus bikin “crush”.

Sadar betul kalo pemahaman seperti ini penting, maka aku -dengan meniru gaya bruce lee - bercerita kepada adik-adikku dan berpesan “be water my brothers“.

lalu tiba-tiba mereka menyela….

“lho…. kalo air dalam gelas kan bisa diwarnai mas???”

walah… iya juga ya??? Tapi spontan saja aku langsung menjawab

“maka itu, jadilah mata air yang mengalir deras”

hehe…….. ini adalah pembelajaran tiada henti, kita juga harus pandai berimprovisasi kan my friends?

tapi tetep….. “the water can flows… or it can crush”

BE WATER MY FRIENDS!!!!! :-)

dari tepuk tangan paling kencang

Tidak begitu banyak aku mengetahui nama-nama penyair besar negri ini, dari sekian banyak itu aku hanya tahu segelintir saja, dari yang segelintir itu hanya beberapa saja yang aku pernah baca lebih dari satu karyanya.

Kebanyakan aku mengenal mereka hanya dari potongan-potongan karya mereka yang sangat terkenal seperti puisi “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” karya pak sapardi.

Salah seorang penyair indonesia yang aku kagumi adalah mbak helvy tiana rosa. Sama seperti kebanyakan penyair lain yang aku tahu, aku juga tidak sempat membaca banyak karya dari beliau ini, beberapa karyanya yang pernah aku baca seperti “lelaki kabut dan boneka” juga tidak aku baca hingga selesai, dan sebagian karya lainnya yang juga pernah aku baca, malah aku sudah tidak ingat lagi sekarang.

Jauh dari kapasitas seorang kritikus sastra aku ini, makanya sulit buatku untuk menilai kapasitas kepenyairan seorang helvy tiana rosa, kalau boleh jujur, dari segelintir karyanya yang aku pernah baca itu, tidak pula karya itu sempat menohok batinku dalam-dalam, rasanya biasa saja, kalaulah tidak aku katakan bahwa sebagian tidak aku mengerti, karna memang beliau ini punya sasaran pembaca yang jauh dari level seperti aku, mungkin.

Hal yang membuat aku mengagumi seorang mbak helvy adalah perjuangan keras dia untuk mengangkat ranah seni islami (yaitu cerpen, kebanyakan) hingga mendapat perhatian dari banyak kalangan (kalangan sastra, dan bahkan kalangan islam itu sendiri).

Karya sastra islam, dulu itu sangat marginal. Siapa yang mau berkeringat untuk mengusahakan penerbitan cerpen atau mengurusi sastra-sastra semacam puisi dan lain-lain? Nyaris tidak ada, sebagian orang menganggap itu hal mubazir dan membuang waktu, sebagian yang lain mungkin lebih ekstrim mengangap itu thaghut. Sebagian yang lain menghabiskan waktunya dengan merenung, kapan bisa bangkit kesempatan kita untuk menampilkan wajah seni islam itu dengan lebih manis dan tanpa ribut sana ribut sini?

Aku termasuk golongan yang terakhir itu, yang menghabiskan hari dengan merenung dan segala teori tentang kenapa sastra kita tidak bisa mendunia, lalu berteori lagi tentang bagaimana meledakkan semua potensi kita dalam sastra, siapa yang akan memberikan perhatiannya terhadap sastra?? Mbak helvy, untungnya juga temasuk dalam golongan yang ketiga itu, tapi beliau tidak berhenti sebatas merenung, beliau bermimpi yang lebih besar dari orang2 sepertiku, dan beliau bergerak mewujudkannya.

FLP (lembaga kepenulisan yang beliau bentuk itu), sekarang sudah menggurita dan jadi besar luar biasa, sastra islam sekarang sudah jadi hal yang bahkan tidak asing untuk remaja-remaja modern dan ngegaul sana-sini. Mimpi mbak helvy sekarang sudah jadi, dan beliau pasti masih sedang bermimpi lain lagi, dan bergerak lagi.

Tak pernah habis kekagumanku untuk orang-orang seperti mereka, darimana mereka petik semangat menggelora tak kira-kira itu?

Jadi mbak, meski aku jarang sekali membaca karyamu, tapi aku sepertinya resapi juga puisi-puisi perjuangan kalian-kalian itu, lalu di barisan penonton yang membludak ini, aku di sudut sana adalah yang bertepuk tangan paling kencang.