Di sebuah persimpangan jalan di bandung, hampir persis di bawah fly
over pasupati, ada sebuah jam digital yang cukup besar. secara
periodik, selang waktu beberapa detik, jam itu berganti-gantian
menampilkan waktu dalam indonesia barat dan suhu cuaca pada waktu itu.
Setelah beberapa kali pengamatan, aku perhatikan rata-rata cuaca
bandung itu mulai dari 21 c hingga 30an c.
sepanas apa itu udara yang paling panas di bandung? Mungkin sepanas
udara dalam bus jurusan dipati ukur - leuwi panjang pada suatu siang
yang gerah 25 juli 2008. dibandingkan dengan suhu di jakarta, tentu
saja cuaca di bandung masih kalah pamor. Tapi untuk ukuran sebuah kota
yang sejuk, maka macet siang-siang, plus melihat deretan mobil yang
mengular sampai ke lampu merah di ujung sana itu, tentu saja tantangan
tersendiri.
lalu seperti biasanya, para pedagang asongan masuk dengan pede lalu
berorasi dengan lancar, inilah orator-orator yang dibesarkan oleh alam,
fikirku….. tentu saja dengan tidak begitu memperhatikan.
tak lama kemudian seorang pengamen dengan perawakan yang biasa masuk
juga ke dalam bus. aku masih dalam mode tidak memperhatikan, sampai
saat dia mendentingkan gitarnya pada tembang pertama.
Sebuah lagu lama yang ceria sekali. enak betul rasanya ditelinga.
kalaulah ada wisata kuliner musik jalanan, maka pengamen satu ini layak
didatangi pak bondan winarno dan diberikan stempel “maknyus”!!
sepertinya dia itu bernyanyi dari dalam hati betul! petikan gitarnya,
starting awal nada suaranya, khas timbre vokal yang berat itu mengalun
hati-hati dengan apik, tidak lebih, tidak kurang, terus melengking
dengan manis, dan fade out dalam sebuah fallseto yang cantik.
BRILLIAN!!!
Ah…. begini rupanya kalau apa-apa itu dikerjakan dengan hati!
sepertinya benar-benar membawa ceria. Kalau ini adalah orasi, maka
denting lagu nostalgi dia itu adalah orasi bung tomo yang menggelegar,
yang membakar bakul-bakul jamu dan tukang-tukang tahu untuk bangkit
bergerak, maju!!! lawan!!! rawe-rawe rantas, malang-malang putung!!!
memang hiperbolis, tapi betul memang itu yang terasa.
Kawan, aku jadi percaya sekali bahwa dalam kapasitas apapun kita ini
dipasrahkan peran, seandainya kita lakukan yang terbaik yang kita bisa,
maka itu akan berbekas di hati orang lain, atau setidaknya di hati kita
sendiri.
Dalam sebuah tulisan pada buku entah yang mana aku lupa, pernah kubaca: “jika
kamu hanyalah seorang penyapu jalan, maka jadilah penyapu jalan yang
baik, yang menyapu jalan dengan sepenuh jiwa, yang menghasilkan maha
karya jalan bersih luar biasa, karya agung senilai patung artistik
michael angelo. Hingga nanti saat kau telah tiada, akan banyak orang,
para malaikat, serta penghuni langit dan bumi akan mengheningkan cipta,
untuk mengenang bahwa disini pernah tinggal seorang penyapu jalan yang
legendaris”
Maka lewat tulisan ini, aku mengucapkan terimakasih yang dalam, dan
mengheningkan cipta sejenak, berterimakasih atas pengamen legendaris
yang menceriakan perjalanan dipati ukur- leuwi panjang, di suatu siang
yang panas terik dan menyengat, duapuluh lima juli yang lalu.
Recent Comments